JAWADĪPA.


Jawadīpa sendiri tidak bisa dikatakan sebagai  agama. Manusia Jawa sejatinya tidak punya agama resmi yang memberikan ruang doktriner bagi pemeluknya. Manusia Jawa hanya percaya kepada Sanghyang Urip yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Sanghyang Urip ini bisa dikategorikan sebagai Tuhan atau bukan, terserah masing-masing individu memahaminya. Hanya saja sosok Sanghyang Urip ini tidak butuh disembah dan tidak memerintahkan satu ritual penyembahan apapun. Bagaimana Dia bisa aktif memerintah penyembahan jika Dia bukan sosok person tertentu? Segala ritual larung sesaji di lautan maupun di gunung-gunung merupakan inisiatif manusia Jawa sendiri demi berucap syukur kepada Sanghyang Urip, bukan merupakan perintah Tuhan dan karenanya sejatinya tidak memiliki sanksi tertentu. Karena tidak ada doktrin tertentu, maka bentuk upacara dan pelaksanaannya akan bervariasi di setiap daerah. Semua sah karena intinya adalah mengucap terima kasih kepada semesta.


Jika demikian bukankah itu bentuk dari agama Jawa? Sebenarnya tidak ada agama. Yang ada adalah keyakinan mendalam tentang Sanghyang Urip yang tidak bisa disembah dengan cara apapun. Dan bentuk penyembahan kepada-Nya adalah melakukan mamayu hayuning bawana alias menebarkan keselamatan dan kasih kepada sesama dan alam raya.


Bagi ajaran Jawadīpa ada dua hal yang harus menjadi pegangan bagi sesiapa saja yang ingin ada di jalan kebenaran :


1. Aywa hagawe tatu tyasing sapadha-padha. (Jangan membuat sakit hati sesama)

2. Aywa hagawe pêpati samining dumadi. (Jangan melakukan pembunuhan kepada sesama makhluk.)


Dua hal ini yang disebut Pêpalining Hyang (Larangan Tuhan). Karena bagi ajaran Jawadīpa, hanya dua hal tersebut yang menjadi larangan Hyang Agung. Pertama, menyakiti hati sesama. Kedua, menumpahkan darah, merenggut kehidupan dari tubuh makhluk fana. Kedua larangan ini sudah mencakup banyak hal. Dengan menghindari berlaku menyakiti hati sesama dan menumpahkan darah makhluk hidup, maka jalan kebenaran telah terbentang lebar.


Pêpalining Hyang ini disebut pula sebagai Panêmbah Agung (Penyembahan Agung). Karena lagi-lagi bagi ajaran Jawadīpa menyembah Hyang Agung berarti mengasihi sesama. Hyang Agung tidak pernah meminta untuk disembah, tidak pernah menurunkan perintah penyembahan, tidak butuh pengakuan agar diakui oleh semua makhluk bahwa diri-Nya adalah Hyang Agung, diakui sebagai Hyang Agung satu-satunya tiada yang lain, diakui sebagai yang paling dahsyat dan ajaib. Dia sempurna. Tidak membutuhkan apapun juga. Ketika diri-Nya masih butuh pengakuan, berarti tercerabut sudah kesempurnaan dari-Nya. 

Bagaimana bisa sosok yang mengaku sempurna namun masih kebingungan untuk minta diakui sebagai Hyang Agung, Tuhan sarwa sekalian loka? Dan lantas marah-marah jika Dia tidak diindahkan? Sungguh, terlalu sulit bagi manusia untuk melakukan penyembahan kepada Hyang Agung yang tidak bisa diserupakan dengan apapun juga dan tidak bisa digambarkan sedikitpun walau dalam pikiran yang paling rumit. Menghadapi hakikat Tuhan semacam ini, bagaimana bisa manusia melakukan lelaku penyembahan kepada-Nya? Puja-puji, gerakan tertentu, sesajian dan sebagainya, tidak akan mampu menyentuh diri-Nya yang tak tergambarkan. 

Namun demikian, walaupun tak tergambarkan, hakikat Hyang Agung nyata-nyata menyatu dengan semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Hyang Agung adalah hidup itu sendiri, Sanghyang Urip. Tanpa kehadiran Hyang Agung semesta dan makhluk hidup ini akan terlempar kepada maut, tidak akan ada kehidupan. Oleh karenanya, alih-alih melakukan lelaku penyembahan dengan puja-puji atau sesajian, ajaran Jawadīpa lebih memilih mengasihi sesama makhluk hidup karena di sana, di dalam diri sejati semua makhluk hidup tersebut, Hyang Agung, Sanghyang Urip bersemayam. Bersemayam secara rahasia.

Baca Juga :


MARCAPADA

Ketika telur semesta itu pecah menjadi tiga bagian, kulit, putih dan kuning, maka semesta pun menjadi. Kulit berubah menjadi Sanghyang Tejamantri (Sanghyang Antaga), putih berubah menjadi Sanghyang Ismaya (Sanghyang Sêmar) dan kuning berubah menjadi Sanghyang Manikmaya. Ketiganya merupakan cerminan dari kuasa tertinggi : Sanghyang Urip, Sanghyang Magawe Urip (Sanghyang Tunggal) dan Sanghyang Hanguripi (Sanghyang Wênang).

Kisah ini melekat pada benak manusia Jawa dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, melewati silih bergantinya ajaran2 Mancanegara yang masuk ke Jawa. Dari mana kisah ini berasal? Dari jaman sebelum Jawa tersentuh ajaran agama Mancanegara, yaitu jaman Jawadipa. Dan lebih jauh lagi, dari jaman yang Anda kenal sebagai Atlantis itu.

Masihkah belum sadar bahwa pecahan2 pengetahuan kuno bertebaran di sekeliling Anda? Dan masihkan Anda menganggap bahwa leluhur Jawa itu bodoh tidak tahu apa-apa sebelum ajaran-ajaran Mancanegara masuk ke Jawa? Lantas apakah Anda tertarik hendak menyelami ajaran purba tersebut? Jika benar kami persilakan bergabung dengan Patêmbayan Jawadipa.








Patêmbayan Jawadipa Pakuan
Bogor, 17 Pebruari 2021.