Comments

SILAHKAN APPLY KTA ANDA DAN KAMI RESPON CEPAT DENGAN SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU. TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA MOHON SIMPAN BLOG INI SEBAGAI REFERENSI HUB 0896-6212-0969 BUNGA RINGAN PROSES CEPAT
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2026

 


interferensi gelombang (Wave interference).


Saat 4 gelombang air bertemu di satu titik:

Jika puncak-puncaknya bertemu bersamaan (interferensi konstruktif), energi mereka dijumlahkan sehingga air bisa melonjak tinggi seperti “meledak”.

Jika puncak dan lembah saling bertemu (interferensi destruktif), gelombang justru bisa melemah atau hampir hilang.

Fenomena “ledakan air” itu sebenarnya bukan ledakan sungguhan, tetapi akumulasi energi sesaat di satu titik.


Contoh nyatanya:

Ombak dari empat arah di kolam atau laut yang bertabrakan.

Pertemuan arus di muara.

Fenomena rogue wave (Rogue wave), yaitu gelombang raksasa yang bisa muncul mendadak akibat banyak gelombang bertumpuk.


Secara sederhana: 1 gelombang = tenaga biasa

4 gelombang sinkron = tenaga berlipat

Mirip seperti empat suara speaker diarahkan ke satu titik.. suara jadi jauh lebih kuat karena energi berkumpul di sana.


Nah dalam diri. Manusia ada 4.gelombang yg bisa dilakukan bersama-sama. 


Bukan gelombang otak saja ya. Walau ada 4 jenis gelombang otak jika disatukan jdi gelombang gamma. Ada 4 jenis gelombang di tubuh manusia yang bisa di satukan dalam satu waktu. 

1. Napas kui gelombang udara (ritme hidup)

2. Jantung kui gelombang denyut (ritme darah)

3. Otak kui gelombang listrik/pikiran

4. Suara kui gelombang getaran/frekuensi


Di dalam dunia sains dan kedokteran, konsep penyatuan keempat hal tersebut (Otak + Napas + Jantung + Getaran) dikenal dengan istilah Sinkronisasi Fisiologis atau Biokoherensi. 4 hal itu dasar sabda dadi

Posted on Juni 14, 2026 by Iwan Pertama

No comments

Kamis, 28 Mei 2026

 Ketika seseorang memahami elemen dominan di dalam diri nya, maka ia akan lebih mudah menentukan lelaku yang sesuai dengan dirinya. Dari situ juga akan terlihat kemampuan apa yang bisa di optimalkan. Semua saling berhubungan dan tidak berdiri sendiri. 


Contoh jika elemen dalam diri adalah air. Maka lelaku nya akan banyak berhubungan langsung dengan cairan dan aliran kehidupan. Dalam kondisi ini  lebih di optimalkan adalah danyang dan danging yaitu frekuensi dan vibrasi yg berkaitan dengan otak dan jantung. 

Aplikasi keluar nya dapat melalui luangsangwa otak atau luwang sangwa jantung. 

1. Pada luwang sangwa otak pengaruh nya bisa ke mata sebagai visual atau telinga sehingga lebih mudah menerima wisik/sabdo

2. Luwang sangwa jantung

Pengaruhnya dapat mengalir melalui telapak tangan, telapak kaki dan juga napas melalui hidung karena semua nya berkaitan dengan vibrasi dan aliran rasa di dalam tubuh. 

Untuk penguatan yang tepat di gunakan Nisawa karena berkaitan dengan energi kehidupan dari alam semesta yg masuk melalui napas, udara, getaran dan suasana alam. 


Klo melihat gambar berarti orang dengan dominan elemen air adalah limang butha dan kandapat nya adlah cair. Sanghyang Aji adalah ya dayang 

Frekuensi, denging dan vibrasi luwang sangwa nya adalah mata, telinga, tangan, kaki dan hidung. Sebagai penguat nya Nisawa. .. 


Pola lelaku yang dilakukan leluhur secara sistematis bukan di lakukan sembarangan. Setiap orang memiliki elemen dominan yang berbeda-beda,  maka lelaku nya pun tidak di samakan. 



Mare Anak dan Mare Hyang
Dua Sambungan Kehidupan dalam Pandangan Leluhur
Dalam pemahaman leluhur, kehidupan tidak berdiri sendiri. Segala yang ada terhubung dalam rangkaian panjang yang saling menyambung dan saling menghidupi. Hubungan itu dipahami melalui dua lingkaran besar kehidupan, yaitu mare anak dan mare hyang.
Mare anak adalah ikatan keturunan. Ia merupakan sambungan darah yang menghubungkan anak, orang tua, leluhur, dan keturunan yang akan datang. Melalui mare anak, kehidupan jasmani terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tubuh manusia lahir dari tubuh manusia sebelumnya. Darah mengalir dari leluhur kepada keturunannya. Nama, watak, pengetahuan, pengalaman, dan cara hidup diwariskan melalui jalur ini. Karena itu mare anak membentuk keluarga biologis, keluarga yang disatukan oleh sambungan urip melalui keturunan.
Melalui mare anak, manusia memahami bahwa dirinya bukan awal dan bukan akhir. Ia adalah mata rantai dari kehidupan yang jauh lebih panjang daripada dirinya sendiri.
Namun leluhur memahami bahwa hubungan manusia tidak berhenti pada keluarga darah. Ada hubungan yang lebih luas, lebih besar, dan meliputi seluruh kehidupan. Hubungan itulah yang disebut mare hyang.
Jika mare anak adalah keluarga keturunan, maka mare hyang adalah keluarga kehidupan.
Kata mare dipahami sebagai ikatan, hubungan, sambungan, atau kesatuan. Sedangkan hyang adalah daya kehidupan yang membuat sesuatu hidup menurut kodratnya masing-masing.
Karena itu mare hyang adalah kesadaran bahwa seluruh yang memiliki hyang berada dalam satu rangkaian kehidupan yang sama.
Di dalam mare hyang terdapat wwanghyang, yaitu manusia yang memiliki hyang kehidupan dan kesadaran diri.
Ada binatahyang, yaitu hewan dan segala satwa yang menjalankan urip menurut kodrat kehidupannya.
Ada batahyang, yaitu pepohonan, tumbuhan, rerumputan, bunga, buah, dan segala yang tumbuh dari bumi serta menjadi penopang kehidupan.
Ada pula kalahyang, yaitu kala atau waktu yang mengatur pertumbuhan, perubahan, musim, kelahiran, perkembangan, dan kematian.
Semua memiliki hyang. Semua menjalankan perannya masing-masing. Semua saling terhubung dalam satu kesatuan kehidupan.
Karena itu dalam mare hyang, manusia tidak dipahami sebagai penguasa alam. Manusia hanyalah salah satu anggota keluarga besar kehidupan.
Wwanghyang hidup karena batahyang menyediakan pangan, udara, dan keseimbangan alam. Wwanghyang hidup berdampingan dengan binatahyang yang menjadi bagian dari siklus kehidupan. Dan seluruhnya bergerak mengikuti kalahyang yang mengatur perjalanan waktu.
Dari pemahaman inilah lahir sikap hidup leluhur yang menghormati kehidupan dalam segala bentuknya. Pohon tidak dipandang hanya sebagai kayu. Hewan tidak dipandang hanya sebagai makanan. Alam tidak dipandang hanya sebagai benda yang boleh diambil sesuka hati.
Semuanya adalah bagian dari mare hyang.
Merusak batahyang berarti merusak salah satu penyangga kehidupan. Memusnahkan binatahyang berarti merusak keseimbangan urip. Mengabaikan kalahyang berarti melawan keteraturan alam.
Karena itu manusia yang memahami mare hyang akan hidup dengan kesadaran menjaga, bukan menguasai.
Mare anak dan mare hyang sesungguhnya tidak terpisah.
Mare anak mengajarkan manusia menjaga sambungan keturunan.
Mare hyang mengajarkan manusia menjaga sambungan kehidupan.
Yang satu menjaga keluarga darah.
Yang satu menjaga keluarga semesta.
Sebab apa gunanya memiliki keturunan jika kehidupan yang diwariskan telah rusak?
Karena itulah leluhur dahulu tidak hanya memikirkan anak yang lahir hari ini, tetapi juga dunia tempat anak cucunya akan hidup kelak. Mereka menanam pohon yang buahnya belum tentu mereka makan. Mereka menjaga tanah yang hasilnya baru dirasakan generasi berikutnya. Mereka membangun kehidupan untuk masa depan.
Mereka memahami bahwa hidup bukan sekadar menikmati dunia hari ini, melainkan membentuk dunia bagi yang akan datang.
Maka manusia yang memahami mare anak akan menjaga keturunannya.
Dan manusia yang memahami mare hyang akan menjaga seluruh kehidupan.
Karena pada akhirnya, keturunan dan kehidupan semesta adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah sambungan urip yang berasal dari sumber yang sama, berjalan bersama dalam waktu yang sama, dan terus hidup melalui generasi-generasi yang akan datang. Itulah makna mare anak dan mare hyang, dua sambungan yang membentuk satu kehidupan yang utuh.

Hyang Taya









Posted on Mei 28, 2026 by Iwan Pertama

No comments

 Penanggalan Leluhur Nusantara



Note: beda 2 Hari dengan kalender nasional

Paringkelan dan Pasaran sebagai Roda Kehidupan Alam

Jauh sebelum sistem kalender modern masuk ke Nusantara, leluhur telah memiliki sistem penanggalan yang sangat maju. Penanggalan itu tidak lahir dari khayalan ataupun sekadar hitungan angka, melainkan berasal dari pengamatan panjang terhadap langit, pergerakan matahari, bulan, musim, angin, tumbuhan, hewan, hingga perubahan perilaku alam dari masa ke masa.

Leluhur memahami bahwa kehidupan berjalan dalam putaran. Tidak ada yang benar-benar lurus. Siang berganti malam, musim datang lalu kembali, air menguap lalu turun menjadi hujan, benih tumbuh lalu kembali menjadi benih. Dari sanalah lahir pemahaman bahwa waktu bukan garis lurus, melainkan roda kehidupan yang terus berputar.

Karena itu penanggalan kuno Nusantara dibangun secara siklik. Setiap hari saling mengunci satu sama lain seperti gir dalam roda besar semesta. Dari perputaran itulah leluhur membaca kapan waktu baik untuk menanam, memanen, berpindah tempat, membuka perdagangan, memperbaiki rumah, hingga menentukan kapan tanah harus diistirahatkan agar tidak rusak.

Sistem ini dikenal melalui gabungan antara paringkelan dan pasaran.

Paringkelan adalah siklus enam hari kehidupan alam:

Tunglai

Haryang

Wurukung

Paniruan

Was

Mawulu

Sedangkan pasaran adalah siklus lima putaran energi:

Umanis (Legi)

Pahing

Pon

Wage

Kaliwuan (Kliwon)

Ketika dua siklus ini dipertemukan, terbentuklah putaran lengkap selama tiga puluh hari. Tiga puluh hari ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan peta kehidupan alam yang dipahami leluhur sebagai denyut jagad.

Makna Paringkelan Leluhur

Tunglai

Tunglai melambangkan daun muda, tunas, dan awal pertumbuhan. Hari ini dipahami sebagai masa munculnya kehidupan baru. Cocok untuk memulai sesuatu, menanam, menyusun rencana, dan membuka langkah awal.

Haryang

Haryang melambangkan manusia dan kesadaran hidup. Hari ini berkaitan dengan hubungan sosial, musyawarah, pembelajaran, dan penyatuan pikiran antarwarga.

Wurukung

Wurukung melambangkan hewan dan gerak naluri alam. Hari ini dianggap kuat untuk membaca tanda alam, berburu, menjaga wilayah, serta memahami perubahan cuaca dan gerak makhluk hidup.

Paniruan

Paniruan berkaitan dengan air dan arus kehidupan. Hari ini dianggap baik untuk perjalanan, perpindahan, pengairan sawah, serta pekerjaan yang membutuhkan keluwesan dan penyesuaian.

Was

Was melambangkan burung dan pertanda langit. Leluhur menghubungkannya dengan kabar, arah angin, pesan, dan perubahan yang datang dari kejauhan.

Mawulu

Mawulu melambangkan benih kehidupan. Hari ini dipahami sebagai masa penyimpanan daya, pematangan hasil, dan persiapan untuk siklus baru yang akan lahir kembali.

Makna Pasaran

Umanis (Legi)

Melambangkan kelembutan, keseimbangan, dan awal hubungan.

Pahing

Melambangkan kekuatan tenaga dan gerak kehidupan.

Pon

Melambangkan penyatuan dan keseimbangan antarunsur.

Wage

Melambangkan ketelitian, perhitungan, dan kerja.

Kaliwuan (Kliwon)

Melambangkan pusat putaran, penguncian energi, dan titik peralihan siklus.

Siklus Lengkap 30 Hari Leluhur

1. Tunglai Umanis (Legi)

Awal pertumbuhan kehidupan. Hari baik untuk memulai tanam dan membuka hubungan baru.

2. Haryang Pahing

Hari penguatan tenaga manusia dan kerja bersama.

3. Wurukung Pon

Hari membaca gerak alam dan keseimbangan lingkungan.

4. Paniruan Wage

Hari baik untuk pengairan, perjalanan, dan penataan pekerjaan.

5. Was Kaliwuan (Kliwon)

Hari pengamatan tanda alam dan perubahan arah kehidupan.

6. Mawulu Umanis (Legi)

Masa penyimpanan benih dan awal pemulihan tenaga.

7. Tunglai Pahing

Pertumbuhan yang mulai menguat dan bergerak aktif.

8. Haryang Pon

Hari penyatuan masyarakat dan pengambilan keputusan bersama.

9. Wurukung Wage

Hari kewaspadaan terhadap perubahan alam dan hama.

10. Paniruan Kaliwuan (Kliwon)

Hari arus besar perubahan dan perpindahan energi alam.

11. Was Umanis (Legi)

Hari datangnya kabar baik dan hubungan antarwilayah.

12. Mawulu Pahing

Hari penguatan cadangan pangan dan daya hidup.

13. Tunglai Pon

Pertumbuhan mulai menemukan keseimbangan.

14. Haryang Wage

Hari kerja bersama dan penyusunan aturan kehidupan.

15. Wurukung Kaliwuan (Kliwon)

Hari naluri alam berada pada puncak kekuatannya.

16. Paniruan Umanis (Legi)

Hari baik untuk perjalanan damai dan pembukaan jalur baru.

17. Was Pahing

Hari pesan dan pertanda datang dengan kuat.

18. Mawulu Pon

Hari pematangan hasil dan penyimpanan benih kehidupan.

19. Tunglai Wage

Hari pertumbuhan yang membutuhkan ketekunan dan perawatan.

20. Haryang Kaliwuan (Kliwon)

Hari penguncian keputusan dan pusat musyawarah masyarakat.

21. Wurukung Umanis (Legi)

Hari keseimbangan antara naluri alam dan kelembutan hidup.

22. Paniruan Pahing

Hari arus kuat, cocok untuk perpindahan dan kerja besar.

23. Was Pon

Hari penyatuan pesan dan hubungan antarkelompok.

24. Mawulu Wage

Hari penyimpanan hasil panen dan perhitungan kebutuhan hidup.

25. Tunglai Kaliwuan (Kliwon)

Hari inti pertumbuhan dan perubahan besar siklus alam.

26. Haryang Umanis (Legi)

Hari hubungan manusia kembali dilembutkan dan diseimbangkan.

27. Wurukung Pahing

Hari kekuatan alam bergerak aktif dan penuh tenaga.

28. Paniruan Pon

Hari keseimbangan arus kehidupan dan hubungan wilayah.

29. Was Wage

Hari pembacaan tanda-tanda perubahan sebelum siklus berakhir.

30. Mawulu Kaliwuan (Kliwon)

📌



Hari penutup siklus. Benih kehidupan disimpan kembali sebelum lahir putaran baru.

Dalam pandangan leluhur Nusantara, penanggalan bukan sekadar alat menghitung hari. Penanggalan adalah cara membaca kehidupan. Setiap putaran hari dianggap memiliki watak, gerak, dan pengaruh terhadap manusia serta alam sekitarnya.

Karena itu leluhur hidup tidak melawan alam. Mereka hidup mengikuti irama semesta. Dari sanalah lahir keseimbangan antara manusia, tanah, air, tumbuhan, hewan, dan langit.

Sistem inilah yang menjadi salah satu fondasi besar peradaban Nusantara. Sebuah warisan ilmu titen dan astronomi kuno yang menunjukkan bahwa leluhur telah memahami hubungan antara waktu, alam, dan kehidupan jauh sebelum datangnya sistem kalender modern.

📌


[3/6 20.54] Jowo: Dalam pembagian jagat kosmos tradisional (Makrokosmos dan Mikrokosmos), Tangan Kanan melambangkan hal-hal yang bersifat positif, aktif, pertumbuhan, dan kehidupan. Sebaliknya, Tangan Kiri melambangkan hal-hal yang bersifat pasif, spiritualitas dalam, transisi, atau waspada.Berdasarkan lambang atau watak asli dari ke-6 hari Sadwara (Paringkelan), berikut adalah pembagian mana yang layak ditempatkan di tangan kanan dan mana yang di tangan kiri:1. Kelompok Tangan Kanan (Energi Hidup & Pertumbuhan)Hari-hari ini diletakkan di Tangan Kanan karena watak simbolnya melambangkan siklus kehidupan yang nyata, produktif, dan membawa energi tumbuh ke atas.Mawulu (Benih / Taru)Makna: Melambangkan bakal buah, benih tumbuhan, atau awal kehidupan. Sangat cocok di tangan kanan karena mewakili awal dari aksi nyata dan kesuburan yang tampak.Aryang (Manusia / Wong)Makna: Melambangkan kedudukan manusia sebagai pelaku utama kehidupan di bumi. Tangan kanan adalah tangan utama manusia untuk bekerja, berkarya, dan berinteraksi sosial.Tungle (Daun / Godong)Makna: Melambangkan proses tumbuhnya daun hijau yang menyerap energi matahari untuk memberi makan seluruh pohon. Ini adalah simbol metabolisme, kesehatan, dan perlindungan luar.

[3/6 20.55] Jowo: . Kelompok Tangan Kiri (Energi Spiritual, Penjagaan & Transisi)Hari-hari ini diletakkan di Tangan Kiri karena wataknya berhubungan dengan alam bawah sadar, insting purba, dunia fauna (hewan), serta ruang kewaspadaan spiritual.Wurukung (Hewan / Sato)Makna: Melambangkan nafsu hewani atau insting bertahan hidup yang tak terlihat. Diletakkan di kiri sebagai simbol bahwa insting atau nafsu ini harus dikendalikan dan dijaga agar tidak liar.Paningron (Ikan / Mina)Makna: Melambangkan makhluk air yang hidup di kedalaman misterius bawah air. Ini melambangkan kedalaman batin, intuisi, spiritualitas tersembunyi, dan rezeki yang harus "dipancing" dari bawah sadar.Uwas (Burung / Peksi)Makna: Melambangkan kebebasan jiwa dan angin. Burung terbang bebas menjembatani bumi dan langit. Tangan kiri memegang kendali atas ruang spiritual dan pelepasan (transisi) ini.

[3/6 20.55] Jowo: Saat jenengan  mempraktikkan hitungan pasaran 30 hari yang tadi dikunci per jari, pembagian tangan ini memperjelas fungsi visualnya:Jika hari Paringkelannya jatuh pada Tungle, Aryang, atau Mawulu, gunakan Jari Tangan Kanan Anda sebagai pusat hitungan karena energinya sedang mengarah pada urusan fisik/duniawi (rezeki, pekerjaan, kesehatan).Jika hari Paringkelannya jatuh pada Wurukung, Paningron, atau Uwas, gunakan Jari Tangan Kiri Anda sebagai pusat hitungan karena energinya sedang mengarah pada urusan batin/spiritual (introspeksi, tolak bala, pembersihan diri)


Hitungan hari sial :

1. Tungle (Ringkel Daun)Maksudnya: Hari ini adalah waktu yang lemah bagi pepohonan besar dan tumbuhan berdaun.Pantangan: Orang zaman dahulu dilarang menebang pohon atau memetik daun pada hari ini karena dipercaya bisa merusak alam atau membawa sial.


2. Aryang (Ringkel Manusia)Maksudnya: Hari ini adalah waktu di mana kondisi fisik dan mental manusia berada di titik paling lemah.Pantangan: Manusia dilarang melakukan pekerjaan berat, membuat keputusan besar, atau melakukan perjalanan jauh karena tubuh sedang rentan sakit atau celaka.

3. Warukung (Ringkel Hewan)Maksudnya: Hari yang lemah bagi hewan berkaki empat seperti sapi, kerbau, atau kambing.Pantangan: Tidak boleh menyembelih, mempekerjakan (seperti membajak sawah), atau memindahkan kandang hewan berkaki empat agar hewan tidak stres atau mati.


4. Paningron (Ringkel Burung)Maksudnya: Hari yang lemah bagi semua jenis unggas dan burung.Pantangan: Dilarang berburu burung atau memindahkan ayam dan bebek ke kandang baru karena hewan-hewan ini sedang mudah mati atau hilang.


5. Uwas (Ringkel Ikan)Maksudnya: Hari yang lemah bagi semua makhluk yang hidup di air.Pantangan: Nelayan atau masyarakat dilarang menjala ikan atau menguras kolam karena dipercaya hasil tangkapan akan buruk atau merusak ekosistem air.


6. Mawulu (Ringkel Benih)Maksudnya: Hari yang lemah bagi benih, biji-bijian, dan tanaman pangan yang baru tumbuh.Pantangan: Petani dilarang menanam padi atau menyemai benih pada hari ini karena tanaman dipercaya akan gagal tumbuh atau diserang hama.


📌 Hari pasaran 

Angka Pasaran (Pancawara)

Kliwon: 8

Legi: 5

Pahing: 9

Pon: 7

Wage: 4


Angka Paringkelan (Sadwara)

Tungleh: 7

Aryang: 6

Wurukung: 5

Paningron: 8

Uwas: 9

Mawulu: 3


Kenapa 1 dan 2 tidak tertulis karena 

1 melambangkan tentang manusia

2. Keinginan

Posted on Mei 28, 2026 by Iwan Pertama

No comments

Sabtu, 31 Juli 2021

 SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN


Memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi. Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab.

1. Radite – Ahad (logat Jawa : Ngahad)
2. Soma – Itsnain (logat Jawa : Sênen)
3. Anggara – Tsalatsah (logat Jawa : Sêlasa)
4. Budha – Arba’ah (logat Jawa : Rêbo)
5. Rêspati – Khomsah (logat Jawa : Kêmis)
6. Sukra – Jama’ah (logat Jawa : Jumngat)
7. Tumpak – Sab’ah (logat Jawa : Sêbtu)

Nama-nama bulan pun juga diubah dari Kawi ke Arab.

1. Warana– Syura (logat Jawa : Sura)
2. Wadana– Shofar (logat Jawa : Sapar)
3. Wijangga– Rabi’ul Awwal/Maulid (logat Jawa : Mulud)
4. Wiyana– Rabi’ul Akhir/Ba’da Maulid (logat Jawa : Bakda Mulud)
5. Widada– Jumadil Awwal (logat Jawa : Jumadilawal)
6. Widarpa– Jumadil Akhir (logat Jawa : Jumadilakir)
7. Wilapa– Rojab (logat Jawa : Rêjêb)
8. Wahana– Arwah (logat Jawa : Ruwah)
9. Wanana– Ramadlan (logat Jawa : Ramêlan/Pasa)
10. Wurana– Syawal (logat Jawa : Sawal)
11. Wujana– Dzulqoidah (diganti Sêla)
12. Wujala– Dzulhijjah (diganti Bêsar)

Masih banyak nama-nama Kawi diganti menjadi nama Arab yang cenderung Islami, termasuk pembagian perhitungan waktu dalam Jawa semenjak jaman Buda yang dibagi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam diganti menjadi :

1. Maheśwara diganti Ahmad (logat Jawa : Akmad)
2. Wiṣṇu diganti Jabarail
3. Brahmā diganti Ibrahim
4. Śrī diganti Yusuf(logat Jawa : Yusup)
5. Kāla diganti Izrail(logat Jawa : Ngijrail)

Pendek kata, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma ingin menunjukkan kepada dunia Islam, khususnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan pusat Kekhalifahan Islam pada waktu itu bahwa beliau benar-benar berkomitmen menyebarkan Islam di Tanah Jawa tidak hanya setengah-setengah. Karena upayanya tersebut, beliau mendapat gelar Sultan dari penguasa Ka’bah pada 1641 Masehi. Sebelumnya beliau hanya mempergunakan gelar Kangjêng Susuhunan Prabhu Anyakrakusuma. Kalender Jawa yang disahkan oleh beliau resmi menjadi kalender Jawa-Islam alias Kalender Kêjawen. Demikian kenyataan dan faktanya.

Pada awalnya ketika disahkan, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, dimulai pada hari Jum’at Lêgi. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Jamngiyah (Jam’iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Ajugi, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Jum’at Lêgi.

Pada 1 Sura tahun Alip 1675, dimulai pada hari Kêmis Kliwon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Kamsiyah (Khamsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Amiswon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Kêmis Kliwon.

Pada 1 Sura tahun Alip 1795, dimulai pada hari Rêbo Wage. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba’iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Aboge, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Rêbo Wage.

Pada 1 Sura tahun Alip 1915, dimulai pada hari Sêlasa Pon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Asapon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Sêlasa Pon.

Masa kita sekarang telah mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah). Ini berlaku semenjak 19 Oktober 1982 Masehi. Celakanya di pedesaan Jawa masih banyak yang tidak memahami pergantian Kurup (Huruf) ini sehingga mereka tetap mempergunakan perhitungan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba’iyyah) atau Aboge. Hasilnya, semenjak tahun 1915 Jawa atau 1982 Masehi, tanggal 1 Sura di pedesaan akan maju satu hari. Menjadi kewajiban kita sebagai pemerhati budaya untuk meluruskan hal ini agar tidak berlarut-larut sehingga menyebabkan adanya kesalahan fatal dalam perhitungan hari karena kalender Jawa menyangkut dengan pemilihan hari baik dan buruk.

Sesuai Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) atau Asapon, tahun baru Sura atau tanggal 1 Sura tahun Alip 1955 kali ini, jatuh pada hari Sêlasa Pon atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021. Yang masih mempergunakan Aboge tahun baru Sura mempergunakan hari Rêbo Wage tanggal 11 Agustus 2021, dan perhitungan itu salah. Pelurusan perlu digalakkan.

Sugêng warsa enggal Kêjawen

Sêlasa Pon, 1 Sura 1955 Alip, Wuku Kulawu, Windu Sangara.

Baca Juga :

PATEMBAYAN JAWADIPA PAKUAN

 
 
 
Mugi tansah pinaringan têguh rahayu slamêt tan ana baya-bayane, luput ing sambekala. Tansah satuhu rahayu. Sarwa hayu!

#KiAjarJawadipa
#Iwanpertama

Bogor, 31 Juli 2021 sore (Sudah masuk malam Minggu Wage)

Posted on Juli 31, 2021 by Iwan Pertama

No comments

Jumat, 12 Maret 2021


Iwan Pertama
| Secara Medis Plasenta atau Ari-ari adalah organ yang menempel pada dinding rahim selama kehamilan dan digunakan untuk mensuplai darah beroksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Ari-ari berisi pembuluh darah yang berasal dari tali pusar.

Ari-ari merupakan salah satu organ tubuh yang cukup membingungkan bahkan misterius bagi sebagian orang. Karena beberapa negara menganggap plasenta sebagai sisa-sisa kelahiran yang perlu di buang. Sebaliknya, di Indonesia, penanganan plasenta/ Ari ari dengan sangat hati-hati mulai dari pembersihan Ari-ari sampai penguburan dengan tata cara tradisi yang sudah ada. Tulisan di bawah akan di jelaskan cara mengubur Ari-ari menurut tradisi jawa.

Fakta tentang plasenta

Meski bingung, plasenta memiliki banyak fakta menarik, yaitu:

1. Menjaga kebutuhan bayi di dalam kandungan
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Royal Society B Philosophical Transactions, fungsi plasenta adalah untuk memberi asupan makanan ke bayi. Fokus utama pemberian makan plasenta ada di otak. Ini diserap dalam bentuk nutrisi oleh ibu dan oksigen. Makanan yang dikonsumsi ibu terurai di dalam plasenta. Kemudian protein memasuki aliran darah. Itu juga dibawa ke aliran darah bayi melalui plasenta dan tali pusar.

2. Plasenta bayi bertindak seperti kelenjar
Plasenta bisa menghasilkan hormon yang berguna untuk pertumbuhan bayi. Hormon yang diproduksi di plasenta meliputi:

 A. Human Chorionic Gonadotropin (hCG), berguna untuk memicu produksi estrogen dan progesteron pada akhir trimester pertama. Mual pada wanita hamil dipengaruhi oleh hormon ini.

B. Estrogen, hormon ini, dapat meningkatkan aliran darah. Dapat merangsang pertumbuhan rahim dan pertumbuhan jaringan payudara untuk menyusui.

C. Progesteron berguna untuk menjaga lapisan rahim.

D. Laktogen plasenta mempercepat metabolisme sehingga energi terpenuhi selama kehamilan.

3. Plasenta berguna untuk pertukaran darah
Setiap menit, hingga 500ml darah ibu mengalir ke rahim untuk memberi janin nutrisi dan oksigen melalui plasenta.

4. Plasenta bukanlah organ yang dibawa oleh ibu
Saat sperma membuahi sel telur, sel berkembang biak menjadi blastokista dan kemudian berkembang menjadi plasenta dan bayi.

5. Plasenta memberikan kekebalan
Saat ibu mengalami infeksi bakteri, plasenta dapat melindungi bayi dari infeksi keturunan. Karena sebelum bayi lahir, bayi mendapat antibodi melalui plasenta. Antibodi dimasukkan ke dalam ASI saat lahir.

6. Plasenta bekerja secara mandiri
Tidak seperti kebanyakan organ, plasenta hanya berkembang dari sperma dan oosit. Fungsi plasenta di luar kendali langsung sistem saraf. Selain itu, plasenta kekurangan sel saraf. Akibatnya, plasenta tidak terkontrol oleh otak atau sumsum tulang belakang.

7. Plasenta adalah satu-satunya organ sekali pakai
Selama orang masih hidup, organ lain di dalam tubuh digunakan. Padahal, plasenta merupakan organ yang bisa dikeluarkan setelah bayi lahir. Ini karena plasenta "dirancang" hanya untuk janin.

8. Saat plasenta dikeluarkan dari tubuh, ASI diproduksi
Meskipun plasenta bukan penghasil ASI, tampaknya ada kaitannya. Saat plasenta tidak lagi berada di dalam tubuh, hal itu memicu produksi hormon prolaktin. Hormon ini menghasilkan ASI.
Masalah umum dengan plasenta

Ada empat potensi masalah yang terjadi pada plasenta selama kehamilan. Kondisi ini bisa memicu terjadinya perdarahan pada vagina. Berikut empat masalah pada plasenta:

1. Gangguan plasenta
Kondisi ini terjadi ketika plasenta terlepas atau terlepas dari dinding rahim sebelum lahir. Akibatnya, bayi akan kekurangan oksigen dan nutrisi. Juga, pecahnya plasenta menyebabkan aliran darah terus menerus ke ibu.

2. Plasenta previa
Ari-Ari berada di tempat yang salah, bagian bawah dinding rahim. Akibatnya, ini menyebabkan pembukaan serviks tertutup. Hal ini juga menyebabkan perdarahan vagina yang banyak, baik selama kehamilan maupun selama proses melahirkan. Digunakan untuk mengobati kasus plasenta previa, jumlah perdarahan, usia kehamilan, posisi plasenta, dan kesehatan ibu dan bayi. Jika plasenta previa muncul pada akhir trimester ketiga, operasi caesar dianjurkan selama persalinan.

3. Plasenta akreta
Plasenta masih menempel kuat pada rahim setelah lahir. Ini karena pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Memang, di dalam plasenta akreta, plasenta bisa tumbuh menembus dinding rahim.

Tradisi Cara Mengubur Ari -Ari

Ari-ari dimasukkan ke dalam kêndhil (periuk untuk menanak nasi) yang baru. Di dalam kêndhil diberi alas daun senthe (alocasia macrorrhiza (L) Schott).


Di atas daun senthe diberi :




1.  Kêmbang boreh (Kembang boreh adalah campuran bunga yang warnanya serba putih ; mawar putih, melati, kanthil juga ditambah dengan boreh yakni parutan dlingo dan bêngle dicampur)

2.  Minyak wangi.(Wangi yang disukai orang tua wanita, minyak murni tanpa campuran alcohol) 1 botol kecil

3.  Kunir (Kunyit) 1 jari

4.  Wêlat (Sembilu dari bambu) satu jari

5.  Garam 1 genggam

6.  Jarum 1 buah

7.  Bênang 1 gulung berwarna hitam

8.  Gêreh pethek 1 buah, yaitu ikan asin dari ikan petek yang pipih. Kalau tidak ada bisa diganti dengan gêreh biasa.

9.  Gantal (sirih digulung dan diberi tali dengan bênang) dua pasang

10.  Kêmiri 1 genggam

11.  Gêpak Jêndhul (biji sawo) cukup tiga biji kalau tidak ada bisa diganti biji buah kesukaan orang tua wanita)

12.  Tulisan Jawa : ha na ca ra ka (Ditulis di atas kertas putih kemudian digulung)

13. Uang Rp.100.000,-

Kêndhil ditutup lemper (cobek) baru, dibungkus kain mori putih. Lantas di tanam di tanah. Di atas tanaman diberi kêmbang têlon (bunga mawar putih, mawar merah, dan kantil). Yang menanam harus Bapa si Jabang Bayi. Gali lobang dulu, setelah lobang siap maka berganti dengan pakaian Jawa dan berkeris. Bakar tujuh batang dupa, tancapKan di sisi lobang galian. Kemudian membaca mel/mantra. Mel /mantra tiak bisa sembarangan orang membaca nya hanya khusus yang sudah di beri tanggung jawab.  Jika sekira nya ada sanak saudara ingin mengetahui tata cara jawa lebih lanjut bisa hubungi pemilik blog dan akan di bantu segala urusan penguburan Ari-ari beserta sesari yang di butuhkan Khusus lokasi jabodetabek.

Tempat menanam dikurungi dengan kurungan yang baru. Diberi pelita semalaman. Dilakukan sampai cuplak pusêr si jabang bayi. Biasanya tiga hari sudah cuplak pusêr.


#Cantrikpakuan
#Patembayan
#Jawadipakuncara

 

Posted on Maret 12, 2021 by Iwan Pertama

No comments

Jumat, 17 Januari 2020

IWAN PERTAMA | Bagi seorang pemula untuk mencintai dunia keris sangat di perhatikan adalah wawasan asal usul pusaka keris itu sendiri agar tdak terjadi hanya sekedar senang saja memiliki keris tapi perawatan nya tidak di perhatikan. Mengenal keris butuh proses pemahaman nilai-nilai yang di emban sejak tradisi lama terutama bagi priyayi kerajaan dan juga abdi dalem yang masih menghargai peninggalan leluhur dengan menyertakan hari hari besar seperti ritual jamasan, pernikahan atau ritual lain selalu di bawa di belakang punggung menggunakan kemben sebagai alat untuk menguatkan ikatan pada sandangan keris. Budaya kita sangat unik berbeda dari budaya negara lain dan bahwa negara kita masih utuh dan menjaga nilai kesopanan.
Pusaka keris hadir sejak nusantara masih berpegang teguh pada kerajaan-kerajaan terdahulu, jika seorang pemula memiliki keris pelajarilah dasar cara merawat keris dan carilah literasi apa yang menjadikan keris menjadi pusaka menurut sang ahli atau mpu. Setiap daerah memiliki ciri khas pusaka yang di bawa nya tidak hanya keris bisa kita lihat dari jawa barat pusaka yang terkenal adalah kujang, di jakarta golok, di madura clurit, di kalimantan mandau dan banyak lagi yang tak di sebutkan.

Sekilas pusaka keris diterima UNESCO

Proses pembuatannya yang sarat dengan perjuangan membuatnya sebagai karya seni kelas tinggi. Karena itu, dibanding produk kebudayaan lainnya, keris bisa jadi satu-satunya yang diterima Unesco bukan saja pada unsur bendawinya, tapi juga nonbendawinya (intangible). Salah satunya, makna filosofis di setiap bagian keris.

Keris pusaka sengaja dibuat bukan untuk senjata perang tapi sebagai spiritual, atau jimat. Sebagai pusaka, keris memang berbeda dengan senjata tajam lainnya. Karena itu, untuk membuatnya, tidak sembarang orang bisa melakukannya.
Si pembuat, kata Mpu Purwo, harus memiliki kemampuan sebagai seorang mpu (pembuat keris, Red). Inilah yang menjadi pembeda antara keris dengan senjata tajam lainnya, seperti pisau atau pedang.

Penulis menyarankan bagi pemula terbukalah sedikit tentang pengetahuan atau filosofi pusaka keris,  kalau memang identik dengan klenik memang tidak bisa di sangkal, secara pribadi wacana tersebut tidak bisa di tutupi meskipun ada sebagian orang menyebar luaskan secara prediksi tanpa pengetahuan. Sang ahli/mpu keris tidak serta merta di buat begitu saja ada kandungan energi/doa yang tersimpan di dalam pusaka keris. Bekal yang di buat mengkondisikan seorang Mpu melakukan ritual yang cukup prihatin dengan cara berpuasa, tirakat. Pencarian bahan-bahan baku besi pembuatan keris di padu padankan dengan batu meteorit sebagai simbol keluhuran yang sangat tinggi.

Pesan penting di dalam pembuatan keris terdapat perpaduan nilai tinggi yang di sisipkan pada bilah keris yaitu meteorit sebagai perlambang bahwa manusia harus mampu berkesadaran tinggi. Keris bisa menjadi antena yang terhubung dengan alam semesta. Sesekali keluarkan dari sandangannya dan angkat keris ke atas sambil sugesti. Dayagunakan pusaka keris sebagaimana mesti nya bukan hanya merawat saja. Sebelum membeli keris sekira nya bisa bergabung melalui forum tosan aji yang mendidik pada tingkatan pengetahuan perkerisan atau juga bisa datang ke tempat galery keris sebagai daya sentuhan rasa. Taman mini indonesia indah terdapat museum keris yang sudah mendapatkan sertifikasi cobalah bermain kesana bagi yang tinggal di sekitar jabodetabek sebagai perbandingan keris yang anda miliki.

Sebelum memiliki keris pelajaran yang perlu anda ketahui secara spiritual di antara nya :

* Menayuh keris
* Penerapan Sugesti di sesuaikan tuah keris


                                    BERBAGAI MACAM KERIS DI NUSANTARA

1. Keris Brojol

Keris pusaka brojol adalah jenis keris yang dipercaya dapat memfasilitasi kelahiran cabang bayi. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa keris brojol sering digunakan dan dimiliki oleh orang-orang yang bekerja sebagai Dukun bayi. Pada kenyataannya, bagaimanapun, Dukun tidak hanya memiliki keris pusaka Brojol, tetapi banyak orang di luar profesi memiliki belati pusaka ini, meskipun pada dasarnya mereka bukan keturunan Dukun.
Sama seperti keris pusaka pada umumnya, keris brojol juga merupakan karya artifisial yang memiliki kekuatan spiritual, terutama dalam bentuk ajaran kehidupan. Brojol sebenarnya identik dengan kelahiran cabang bayi di perut. Belati Kerjapur-Brojol adalah simbol untuk kelahiran anak, bukan sebagai proses kelahiran itu sendiri, tetapi bertujuan kemurnian cabang yang baru lahir yang mirip dengan sifat manusia.

Dapur pusaka keris brojol panjang bilah umumnya hanya sekitar 15-19 cm, bilahnya tipis, rata dan biasanya merupakan keris kuno. Pejetan yang ada di bagian pangkal bilah hanya samar-samar saja. Gandiknya polos dan tipis. Kadang-kadang memakai ganja iras. Kadang-kadang pula pada bilahnya ada lekukan-lekukan dangkal, seolah lekukan itu bekas pijitan jari tangan.

2. Keris Tilam upih
Dapur Tilam Upih dalam terminologi Jawa berarti tikar yang dibuat dengan lembaran tenunan digunakan untuk menunjukkan kenyamanan keluarga di rumah selama tidur. Akibatnya, banyak pusaka keluarga telah diturunkan kepada anak anak nya. Ini menunjukkan harapan para sesepuh keluarga bahwa anak-anak mereka akan menemukan kedamaian dan kemakmuran dalam kehidupan keluarga. Pada zaman kuno, orang tua menikahi anak-anak mereka, yang berarti orang tua berdoa agar anak-anak mereka tinggal di rumah mereka. baik, mulia dan cukup. Keris Tilam Upih juga merupakan simbol harapan akan hidup yang berkecukupan. Keris Tilam Upih juga disebut Ibu dari semua Keris (The Mother of Kris).  Menurut kisah dahulu kala Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut – pengikutnya bahwa keris yang pertama harus dimiliki adalah Keris Tilam Upih.

Keris Dapur Tilam Upih, yang dipercaya mengandung energi positif yang kuat serta mampu meredam energi-energi bermuatan negatif sekalipun kekuatannya lebih besar dari pada Keris Tilam Upih.
Keris Lurus tanpa Luk ini termasuk salah satu yang banyak di buru orang, konon Keris Dapur Tilam Upih hampir sama dengan Tilam Sari, akan tetapi dari ke dua benda Pusaka ini jelas berbeda satu sama lainnya. Dapur Tilam Upih menyimbolkan:
  • Tilam Tikar yang dibuat dari anyaman dedaunan

  • Tikar dari Anyaman digunakan untuk tidur, yang mengartikan bahwa terdapat alas pemisah dari tanah dan tubuh pemiliknya sehingga akan menimbulkan rasa ketentraman.
Ini juga yang menjadikan alasan, mengapa Keris Dapur Tilam Upih ini sangat jarang dimaharkan oleh pemiliknya Keris ini mampu memberikan ketentraman serta rezeki yang cukup untuk pemiliknya.

Asal usul Keris Dapur Tilam Upih

Pusaka ini dibuat oleh Empu sakti yang bernama Bromogedali, sang Empu diminta oleh Raja Budawage yang diriwayatkan adalah Jelmaan dari Brahma yang menjelma di Negeri Sawanada yang kemudian berunama nama dari Sawanada menjadi Medang Kamulan. Sang Empu yang membuat Keris Berdapur Tilam Upih dan Blembengan tersebut memberikan Ricikan berbentuk Lurus memakai pijetan gandik polos.

Keris Tilam Upih menjadikan simbol bahwa rumah yang merawat Keris ini akan diberi ketentraman dan rezeki yang cukup, karena itu para pemilik Keris Dapur Tilam Upih ini lebih memilih untuk terus mewariskannya ke anak cucu. Jadi jangan mudah percaya jika ada orang yang memaharkan Keris jenis ini.

Subadra

Terpujilah Kita Semua    

Posted on Januari 17, 2020 by Iwan Pertama

No comments

Senin, 22 Juni 2009

Ngelmu Titen Petani Jawa dalam Pranata Mangsa

Masyarakat Jawa dikenal dengan Ngelmu Titen adalah seperti filsafat empirisme dalam Ilmu Barat (Baca: Renesaince), yaitu kebiasaan untuk menafsirkan dan pengamatan serta pengalaman berbagai hal melalui tanda-tanda yang ada (fakta).

Sebagai masyarakat berkultur pertanian, ngelmu titen juga digunakan untuk memahami kapan petani dapat beraktivitas mulai dari menebar benih padi hingga memanennya.

Mereka mempunyai sistem penanggalan khusus pertanian yang disebut sebagai pranata mangsa (ketentuan musim).

Sistem penanggalan ini didasarkan pada siklus peredaran matahari sehingga penanggalan ini memiliki periode yang sama dengan kalender tahunan.

Bedanya, pranata mangsa tidak berangka dan bernama hari atau bulan seperti kalender pada umumnya. Akan tetapi, pranata mangsa menggunakan candraning mangsa atau fenomena yang biasanya terjadi pada mangsa/musim tertentu.

Hal ini tentu beralasan, mengingat masyarakat Jawa dahulu pada umumnya tidak terlalu mempedulikan bilangan.

Ada dua versi perhitungan pranata mangsa. Pertama adalah versi Kasunanan yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

Berdasarkan versi ini, mangsa dalam satu tahun dibagi menjadi 4, yaitu :
(1) mangsa katiga yang berjumlah 88 hari,
(2) mangsa labuh yang berjumlah 95 hari,
(3) mangsa rendheng yang berjumlah 94 hari, dan
(4) mangsa mareng yang berjumlah 88 hari.

Versi kedua lebih umum, yakni dengan mengaitkan perilaku hewan, perubahan pada tanaman, fenomena alam sekitar dengan praktik yang akan dilakukan dalam kultur agraris atau pertanian.

Berdasarkan hal ini, mangsa juga dibagi menjadi 4 musim utama namun disisipkan 2 musim penyela, yaitu sebagai berikut:
(1) mangsa terang yang berjumlah 82 hari,
(2) mangsa semplah yang berjumlah 99 hari dengan mangsa paceklik selama 23 hari pertama.
(3) mangsa udan yang berjumlah 86 hari, dan (4) mangsa pangarep-arep yang berjumlah 98 hari dengan mangsa panen pada 23 hari terakhir.

Selain pembagian ke dalam 4 musim, pranata mangsa juga dibagi lebih rinci menjadi 12 musim yang dilengkapi dengan posisinya di dalam mangsa utama.

Candra atau istilah yang digunakan untuk menyebut mangsanya, penciri atau hal-hal yang biasanya terjadi pada mangsa tersebut, dan tuntunan bagi para petani.

Berikut merupakan penjabaran rinci mengenai 12 mangsa yakni :

1. Mangsa Kasa (Kartika)
Mangsa ini terjadi pada mangsa katiga-terang. Mangsa kasa memiliki candra sesotya murca saka ngembanan. Secara literal, candra ini berarti mutiara yang terlepas dari kerangkanya.

Hal ini menandakan musim yang mana terjadi fenomena daun-daun berguguran, tumbuh-tumbuhan mulai meranggas, dan sejenis belalang mulai masuk ke dalam tanah.

Pada masa ini, para petani mulai membakar jerami sisa panen yang masih tertinggal di sawah dan mereka mulai menanam palawija, seperti jagung. Jumlah mangsa ini sekitar 41 hari.

2. Mangsa Karo (Pusa)
Mangsa ini ditandai dengan candra bantala rengka dan terjadi pada mangsa katiga-paceklik. Bantala rengka berarti tanah-tanah yang retak.

Biasanya, pada mangsa ini tanah-tanah mulai nela (retak) karena kekeringan sehingga apabila berkepanjangan, dapat menyebabkan musim paceklik (larang pangan/bahan pangan mahal).

Musim ini dicirikan dengan tumbuhan kapok atau randu yang mulai bertunas. Mangsa ini berlangsung sekitar 23 hari.

3. Mangsa Katelu (Manggasri)
Mangsa yang berjumlah 24 hari ini diibaratkan seperti suta manut ing bapa, yaitu mulai berakhirnya mangsa katiga-semplah. Pada mangsa ini, lahan-lahan tidak ditanami karena kondisi cuaca yang sangat panas.

Palawija yang telah ditanam mulai dipanen dan berbagai jenis bambu mulai bertunas. Pada musim ini, umbi-umbian juga mulai bertunas sehingga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan cadangan sampai mangsa ini berakhir.

4. Mangsa Kapat (Sitra)
Pada mangsa ini, sawah-sawah belum ditanami karena masih peralihan dari mangsa katiga ke mangsa labuh. Biasanya, pada mangsa ini para petani baru menggarap sawah.

Fenomena alam yang terjadi pada mangsa ini adalah mulai berbuahnya pohon kapuk randu dan burung-burung kecil mulai bertelur. Mangsa ini diibaratkan sebagai waspa kumembering jroning kalbu (air mata yang penuh di dalam hati).

Candra ini bermakna bahwa sumber-sumber mata air mulai mengering sebagai pertanda mangsa labuh. Mangsa ini berlangung sekitar 25 hari.

5. Mangsa Kalima (Manggala)
Mangsa kalima menjadi pertanda bahwa sudah saatnya petani harus menggarap sawah. Pada mangsa ini, hujan mulai turun sehingga saluran irigasi di sawah mulai diperbaiki. Mangsa ini terjadi selama sekitar 27 hari.

Fenomena alam yang biasanya terjadi bersamaan dengan mangsa ini adalah munculnya tunas-tunas muda pohon asam dan ulat-ulat mulai bermunculan.

Candra yang digunakan untuk mangsa ini adalah pancuran emas sumawur ing jagad yang bermakna bahwa pancuran emas (sumber air) memancar ke seluruh alam.

6. Mangsa Kanem (Naya)
Setelah mangsa kalima berakhir, dimulailah mangsa kanem yang akan berlangsung selama sekitar 43 hari. Pada mangsa kanem, para petani mulai menebar benih di lahan khusus pembenihan, biasanya lahan yang digunakan adalah lahan yang dekat dengan saluran air.

Pada mangsa yang diibaratkan sebagai rasa mulya kasucian ini, biasanya ditandai dengan banyaknya buah-buahan manis yang siap dipetik, seperti durian, rambutan, dan manggis. Selain itu, burung belibis pun mula terlihat di sekitar tempat-tempat berair.

7. Mangsa Kapitu (Palguna)
Mangsa kapitu yang berlangsung selama sekitar 43 hari diibaratkan bagai wisa kintir ing maruta yang bermakna “racun yang hanyut bersama angin”.

Hal ini menandakan bahwa pada mangsa kapitu, berbagai penyakit bermunculan dan orang-orang mulai jatuh sakit. Fenomena alam yang terjadi antara lain sering hujan dan banjir, badai, dan tanah mulai longsor.

8. Mangsa Kawolu (Wisaka)
Mangsa kawolu terjadi pada saat rendheng-pangarep arep dan berlangsung sekitar 26 hari.

Pada mangsa ini, padi-padi mulai menghijau dan ulat-ulat mulai bermunculan, serta dimulainya musim kucing kawin sehingga mangsa ini diibaratkan sebagai anjrah jroning kayun (merata dalam segala ingin).

Para petani banyak berharap-harap agar selepas masa ini berakhir, tanaman mereka menghasilkan panen yang banyak dan tidak terkena penyakit.

9. Mangsa Kasanga (Jita)
Awal permulaan mangsa kasanga ditandai dengan wedharing wacana mulya atau mulai keluarnya bunyi-bunyian yang indah.

Pada mangsa ini, hewan-hewan seperti garengpung, gangsir, dan jangkrik mulai muncul dan mengeluarkan bunyi-bunyian.

Mangsa ini juga menandai padi-padian yang mulai berbunga dan sebagian juga sudah mulai berbuah. Mangsa ini terjadi selama kurang lebih 25 hari.

10. Mangsa Kasepuluh (Srawana)
Mangsa kasepuluh ditandai dengan menguningnya padi, hewan-hewan yang sudah mulai hamil, dan telur-telur burung mulai menetas.

Candra yang digunakan untuk mangsa ini adalah gedong minep jroning kalbu yang bermakna bahwa mangsa kasepuluh adalah masa yang mana para makhluk hidup mulai hamil/berisi. Mangsa ini berlangsung sekitar 24 hari.

11. Mangsa Desta (Padrawana)
Setelah berakhirnya mangsa kasepuluh, dimulailah mangsa desta yang menjadi penanda dimulainya musim panen padi.

Candra yang digunakan pada mangsa ini adalah sotya sinara wedi yang mana para burung mulai menyuapi anak-anaknya. Pada masa yang berlangsung selama 23 hari inilah, mangsa mareng dimulai.

12. Mangsa Sada (Asuji)
Mangsa sada menjadi mangsa terakhir dalam pranata mangsa. Mangsa ini diibaratkan seperti tirta sah saking sasana (air yang menghilang dari tempatnya).

Pada mangsa ini, orang-orang jarang berkeringat karena cuacanya yang dingin. Hal ini menandakan berakhirnya mangsa mareng.

Mangsa yang berlangsung selama kurang lebih 41 hari ini dimanfaatkan oleh para petani untuk menjemur gabah (biji padi) dan menyimpannya di lumbung.

Demikian penjelasan dari 12 pranata mangsa. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, penanggalan tersebut semakin jarang digunakan oleh para petani karena kurang relevan.

Oleh karenanya, perlu pengkajian dan pemahaman ulang agar pranata mangsa tersebut tetap dapat berfungsi sebagai penanggalan tradisional dalam bidang agraris.



SISTEM KALENDER JAWA

Kalender Jawa sama halnya dengan kalender-kalender yang lain menunjukkan tahun, bulan, tanggal dan hari dari suatu saat. Dalam sistem kalender ini selain ada tujuh hari, minggu sampai dengan sabtu juga ada lima hari pasaran: kliwon, legi, pahing, pon dan wage. Di Jawa kedua macam hari itu digabungkan untuk mengingat kejadian-kejadian yang penting, misalnya seseorang lahir hari Minggu Kliwon atau Minggu Wage, seseorang meninggal hari Jumat Legi atau Jumat Pon.

SIMBOL PERPUTARAN HIDUP
Kalender Jawa menunjukkan perputaran hidup antara manusia dimana hidup itu diciptakan oleh Gusti, pencipta Jagat Raya, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa:
Dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah
1. Ekawara,
2. Dwiwara,
3. Triwara,
4. Caturwara,
5. Pancawara,
6. Sadwara,
7. Saptawara,
8. Hastawara,
9. Nawawara dan
10. Dasawara.

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Hari Pasaran Lima
Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan.
1. Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri.
2. Legi (Manis) melambangkan mungkur atau berbalik arah kebelakang.
3. Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap.
4. Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur.
5. Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.
Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :
1. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
2. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
3. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
4. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
5. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
6. Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.

Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

HARI
Orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Radite (Minggu).
1. Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
2. Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
3. Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
4. Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
5. Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
6 Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
7. Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.
Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.

Elemen Hari
Minggu : Aditya = Planet Matahari
Senin : Soma = Planet Bulan
Selasa : Anggara = Planet Mars
Rabu : Budha = Planet Merkurius
Kamis : Respati = Planet Jupiter
Jumat : Sukra = Planet Venus
Sabtu : Saniskara = Planet Saturnus

Dino Pitu (Hari Tujuh)
Nama hari ini dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi adalah nama dari ke tujuh tersebut.
1. Radite (Minggu) melambangkan meneng atau diam.
2. Soma (Senin) melambangkan maju.
3. Anggar/Hanggara (Selasa) melambangkan mundur.
4. Budha (Rabu) melambangkan mangiwa atau bergerak ke kiri.
5. Wrespati/Respati (Kamis) melambangkan manengen atau bergerak ke kanan.
6. Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas.
7. Tumpak (Sabtu) melambangkan temurun atau bergerak turun.

PENANGGALAN BULAN
Tanggal pertama tiap bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya seperti garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang baru lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.
1. Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan dewasa yang telah bersuami istri.
2. Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.
3. Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.
4. Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali seperti bayi layaknya.
6. Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, dimana hidup manusia kembali ketempat asalnya menjadi teja lagi.

Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan saat dimana ‘Teja’ akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru. Proses perputaran hidup ini dinamakan ‘cakramanggilingan‘ (cakra = senjata berbentuk roda yang bergigi tajam, manggilingan = selalu berputar) atau juga disebut herucakra. Manusia yang berbudi baik selalu mengikuti jalan yang diperkenankan oleh Yang Kuasa orang tersebut akan dituntun mengetahui sangkan paraning dumadi (datang ke dunia berawal suci hidup didunia berhati dan berperilaku suci dan kembali dalam keadaan suci lagi).

Nama-nama Bulan
Setiap eksistensi dari hidup manusia baru dimulai dengan Teja (sinar hidup yang diciptakan oleh kekuatan gaib dari Gusti Tuhan).

Perputaran hidup manusia adalah dari teja kembali ke teja melalui suwung (kosong). Dari bulan pertama (Warana/ sinar) sampai dengan bulan ke sembilan manusia baru tersebut berada di kandungan ibu dalam proses untuk mengambil bayi hidup yang sempurna, siap untuk lahir; dari bulan kesepuluh dia menjadi seorang manusia yang hidup didunia ini. Bulan kesebelas melambungkan akhir dari pada eksistensinya didunia ini yaitu, wusana artinya sesudahnya. Yang terakhir adalah suwung artinya kosong, hidup pergi kembali dari mana hidup itu datang. Dengan kehendak Gusti hidup itu kembali lagi menjadi Teja/ Cahaya, inilah perputaran hidup karena hidup itu abadi.

Ada kalanya orang tua bijak memberikan nasihat sebaiknya setiap orang itu tahu inti dari sangkan paraning dumadi atau purwa, madya, wusana. Sehingga orang akan selalu bertingkah laku yang baik dan benar selama diberi kesampatan untuk hidup didunia ini.

Satu tahun terdiri dari 12 bulan yang menunjukkan sangkar paraning dumadi (asalnya dari mana dan akan pergi kemana), disini ada 12 proses yaitu :
1. Warana (Sapar) artinya wiwit.
2. Wadana (Mulud) artinya kanda.
3. Wijangga (Bakda Mulud) artinya ambuka.
4. Wiyana (Jumadi Awal) artinya wiwara.
5. Widada (Jumadi Akhir) artinya rahsa.
6. Widarpa (Rejeb) artiya purwa.
7. Wilapa (Ruwah) artinya dumadi.
8. Wahana (Pasa) artinya madya.
9. Wanana (Sawal) artinya wujud.
10. Wurana (Sela) artinya wusana.
11. Wujana (Besar) artinya kosong.
12. Wujala(Sura) artinya tejo

NO PENANGGALAN JAWA LAMA HARI
1. Warana 31
2. Wadana 28
3. Wijangga 31
4. Wiyana 30
5. Widada 31
6. Widarpa 30
7. Wilapa 31
8. Wahana 31
9. Wanana 30
10. Wurana 31
11. Wujana 30
12. Wujala 31
Total 365

*Bandingkan jumlah harinya dengan tahun lunar/ hijriah berikut:
No Penanggalan Jawa Lama Hari
1 . Sura 30
2. Sapar 29
3. Mulud 30
4. Bakda Mulud 29
5. Jumadilawal 30
6. Jumadilakir 29
7. Rejeb 30
8. Ruwah (Arwah, Saban) 29
9. Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan) 30
10. Sawal 29
11. Sela (Dulkangidah, Apit) 30
12. Besar (Dulkahijjah) 29
Total 354

TAHUN
Terdapat delapan nama dari tahun Jawa, pada masa kasultanan Agung, nama-nama tersebut digubah dan disisipkan bahasa arab/ islam, Nama-nama tahun tersebut adalah sebagai berikut :

Purwana – Alip, artinya ada-ada (mulai berniat)
Karyana – Ehe, artinya tumandang (melakukan)
Anama – Jemawal, artinya gawe (pekerjaan)
Lalana – Je, artinya lelakon (proses, nasib)
Ngawana – Dal, artinya urip (hidup)
Pawaka – Be, artinya bola-bali (selalu kembali)
Wasana – Wawu, artinya marang (kearah)
Swasana – Jimakir, artinya suwung (kosong)
Siklus Windu atau per 8 tahun
#
Mangsa Pasaran Hari
1. Purwana Selasa Pon 354
2. Karyana Sabtu Pahing 355
3. Anama Kamis Pahing 354
4. Lalana Senin Legi 354
5. Ngawana Jumat Kliwon 355
6. Pawaka Rabu Kliwon 354
7. Wasana Minggu Wage 354
8. Swasana Kamis Pon 355
Total 2835

Kedelapan tahun itu membentuk kalimat ”ada-ada tumandang gawe lelakon urip bola-bali marang suwung” (mulai melaksanakan aktifitas untuk proses kehidupan dan selalu kembali kepada kosong). Tahun dalam bahasa Jawa itu wiji (benih), kedelapan tahun itu menerangkan proses dari perkembangan wiji (benih) yang selalu kembali kepada kosong yaitu lahir-mati, lahir-mati yang selalu berputar.

Daftar Musim Matahari Jawa
Daftar ‘pranata mangsa’ ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan sejak jaman dahulu kala yang juga merupakan kalender Surya, sebagai patokan para petani untuk bercocok tanam, tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda.

Nama musim atau mongso yang disebut sebagai ‘Pranata Mangsa’
Penanggalan Jawa Awal Akhir
1. Kasa 23 Juni-2 Agustus
2. Karo 3 Agustus-25 Agustus
3. Katiga (Katelu) 26 Agustus-18 September
4. Kapat 19 September-13 Oktober
5. Kalima 14 Oktober-9 November
6. Kanem 10 November-22 Desember
7. Kapitu 23 Desember-3 Februari
8. Kawolu 4 Februari-1 Maret
9. Kasanga 2 Maret -26 Maret
10. Kadasa 27 Maret-19 April
11. Dhesta 20 April-12 Mei
12. Sadha 13 Mei -22 Juni







SELAMAT TAHUN BARU JAWA 2931 TAHUN JAWA

Ketika membaca judul artikel ini kawan-kawan pasti penasaran dan kaget bulan pertengahan seperti ini membuat status dg judul Selamat Tahun Baru, mungkin di benak pikiran kawan-kawan pembaca, waah yg menulis artikel ini lagi stres akibat kena dampak terlalu lama PSBB akibat covid 19 kali ya?

Masyarakat Nusantara khususnya Jawa saat ini terlanjur cuma hanya mengenal bahwa Tahun Baru Jawa itu adalah 1 Suro yg bersamaan dg 1 Muharram.

Semakin hari semakin modern insting para generasi kawula muda semakin kritis dalam hal penelusuran dalam kejanggalan, dalam setiap diskusi sering terlontar pertanyaan-pertanyaan dari peserta diskusi yg di dominasi oleh kaum muda yg cerdas dan kritis untuk menanyakan Tahun Baru Jawa yg asli itu kapan?

Memang yg di kenal oleh masyarakat luas dan dan di tahun serta berlaku saat ini adalah tahun baru Jawa adalah 1 Suro atau tahun baru saka, perlu di ketahui bahwa Tahun Baru Jawa yg telah diperkenalkan oleh Kanjeng Sultan Agung adalah 1 Suro yg telah di modifikasi atau di owahi di sesuaikan dg kepentingan politik persamaan dg para wali sejak tahun 1555 Srawana, apakah sebelum tahun tersebut kalender Jawa tidak ada istilah tahun baru? Jawabnya ada

Hingga kini masyarakat adat Jawa walau jumlahnya sangat sedikit namun masih ada yg menggunakan atau mengatakan bahwa hari ini yg bertepatan dg tgl 21 Juni Pranata masa Kasa atau bulan Kartika adalah sebutan Tahun Baru bagi masyarakat adat Jawa Asli atau tulen.

Maka untuk itu artikel ini hanya menggugah serta mengenalkan kembali bahwa Tahun Baru Jawa Tulen menggunakan KALENDER PRANATA MANGSA merupakan bergantinya tahun sebelumnya dan menapaki tahun berikutnya yg masih tidak terpengaruh oleh owah-owahan perpolitikan pembelotan sejarah.

Apabila ditilik berdasarkan penanggalan Jawa yang diciptakan Mpu Hubayun pada 911 SM, maka saat ini (2020) adalah tahun 2931 (Jawa Asli, bukan Saka, Jowo kini atau Hijriah). Sebuah Kalender asli yang dibuat tidak berdasarkan agama, atau aliran kepercayaan apapun.

Saya ucapakan SELAMAT TAHUN BARU JAWA bagi rekan-rekan adat Jawa yg masih menggunakan kalender pranata mangsa di bumi Nusantara ini, nuwun



By. Ki Pandi Nayuhan
Mari kembalikan kejayaan Negeri Matahari 🙏🇮🇩
Hayu hayu jaya jaya Wijaya🙏🇮🇩
Rahayu Mulyaning Jagad Jawa🙏🇮🇩

Baca juga :

PARTAI GEMAH RIPAH

Posted on Juni 22, 2009 by Iwan Pertama

No comments

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA