Pilar SangKami

Mengaliir dari anugerah Tuhan Yang Maha Esa
Takdir telah menapak dengan jalannya sendiri
Yang siap mengepakan sayap disetiap simbol Budaya........


SangKami
mengejawantah wujud, daripada anak kandung ibu pertiwi
dalam seloka;
"Sangkakala Kawula muda indonesia"
sebagai :

Bangsa emas yang Mulia
Darah emas yang Agung
Nama emas yang Sejati
Salam #SangKami
Salam #satuMerta Terpujilah Kita Semua🙏
========================
Berangkat dari pemahaman Pilar diatas, yakni Pikiran serta Laras Nalar, yang tersirat nilai-nilai ''Falsafah Bangsa" didalamnya,.
Maka induk itu kemudian jadi pedoman pembangunan organisasi multi kultural, bernama SangKami,
sebagai penghayat kebudayaan, Seni Daya Guna sekaligus Guna Daya, yang meliputi aspek profesi dengan perkembangannya........

Sesungguhnya SangKami merupakan keuTuhan dengan saling bersenTuhan satu sama lain, sehingga membentuk apresiasi atas aksi reaksi secara emphati dan simpati,
Olehkarenanya, energi tersebut diterjemahkan dalam sejarah "Sumpah Pemuda" pada catatan zamannya.

Jika hari ini merekah hikmatnya kebudayaan bumi, itu merupakan efek antariksa secara bersama-sama, membentuk paradigma berfikir manusia, mulai berubah atau kembali pada akurasi pijakan dasar masing budaya,

Dan terus mengepakan sayapnya, dalam setiap simbol tertera, untuk mengantarai juga menandai, bahwasanya; kebangkitan bangsa memiliki latarbelakang budaya berbeda, yang semuanya berkehendak sama 'untuk Menggotong wujudnya Negara Kesatuan,
Menyongsong keBUDAYAan, sebagai Keluarga Besar SangKami.

Baca juga :

PARTAI GEMAH RIPAH



PEMUDA DAN BUDAYA

PEMUDA adalah aset bangsa yang memiliki peran sangat penting, setiap daya gerak pelaksanaannya, Serta upaya keselarasan timbang banding, Baik dengan cara - cara menuai kesejahteraan, maupun cara menunai peradaban, Bahkan mampu melampaui target pencapaian sejarah zamannya .

Strategi pemuda dalam interaksi berkebangsaan, persis berada pada posisi api dinamika dalam bara semangat pembangun negaranya, untuk menuju, menjadi bangsa hebat yang berbudaya.........

Menyadari bahwa perjuangan tidak pernah kelar tanpa perjuangan yang gigih, dan lagi 'begitu banyaknya pengaruh era dengan segala teori alasan digitalism, serta kecepatan yang demikian cermat dan pesat, sebagai kepanjangan kolonialisme kelam hingga kemerdekaan hari ini.

Maka energi muda itu segera dirakit sebagai Sangkakala Kawula Muda Indonesia.
Gambarkan pemberontakan usia didih, untuk menjawab seluruh tantangan masa lampau, Demi masa depan bersama bangkitkan kebudayaan tulang punggung kearifan lokal.

Gagasan bersambut,
Pemuda yang bernama *Garis Basuki Ratno* mensikapi hal itu, agar sinkronisasi apa yang telah ditemukan oleh rekan kembaran jalanannya
*Hemas Udy Effendy*
dapat disinergikan dalam wadah besar SangKami.......

Sehingga sepak terjang yang digalang seorang Ricky, panggilan akrabnya, ia menggandeng *Dendy Jauhari*, 'Mampu mengekspresikan 2. hal : AD/ART dan Falsafah dalam pilar organisasi dimaksud, Pelaksanaan kemudian merekut dan merajut bersama 9 kerabat dari latarbelakang berbeda lainya,
Sampailah pada kesepakatan legal aspek SangKami, dilembar Negara.

Adalah seri sejarah negeri ini keseriusannya menata kehidupan berbangsa dan bernegara dengan membentuk satu wadah dan satu-satunya organisasi sosio ekologia lebih luas, yang berorientasi pada multi cultural,  Pastinya kesemakmuran dan kesejahteraan, jadi acuan tepat guna.

Melingkupi dunia seni sebagai peran utama, mesti dilekatkan setiap unsur kehidupan bangsa dinegeri ini, Artinya acuan etika dan estetika jadikan pilihan penting dari begitu banyaknya paradigma.......
Rasa handarbeni atau rasa memiliki negerinya, merupakan hak bangsa sepenuhnya, dalam arus manner dan mindset, diatas mentalika insan budaya, itulah SangKami.


Mimpi seorang Pimpinan

Pimpinan besar, mesti memiliki Mimpi besar.
Tuangan visi misi terus mendorong bawakan suatu keniscayaannya,
Setiap gerakannya selalu berinteraksi berbagai negoisasi sebagaimana transksasional sebuah bangsa yang besar pula,
M
a
k
a
Pemimpin akan menunjuk keMapanan visi yang diembannya ,'ketara melekat dalam kata per kata didalam tindakannya, 'yang kemudian terlihat begitu Mumpuni bermain - main dibelantaranya.......


Tiap rangkaian kata, tebarkan impiannya sebagai mimpi bersama, 'yang sudah membentuk keMantapan inti daripada cita-cita atas misi-nya.

Masa depan adalah sumbangsih pemikiran benak para pemimpin,
yang memberi arti pencapaian sebuah bangsa atas negaranya, ,'Gambaran semacam itu, dapat memungkinkan jadi tauladan zaman-zaman.

Penataan bangunan Budaya, cerminkan Kebaikan, Mentalitas masyarakatnya, untuk mampu menelanjangi nilai keadilan dan persemakmuran,.
Kebagusan atau Keindahan akan meningkatkan Materialitas Kebenaran Spiritualitas-nya,
Sesuatu pemenuhan apa - apa yang mendasari atas itu.

Prioritas perubahan yang jadi topik utamanya, bisa terekspose, juga dieksploitasi, gegap meningkatnya daya lebih mandiri,
Peningkatan yang bijak, terus menerus, memperlihatkan suasana yang berbeda dari sebelum - sebelumnya,

Meskipun tidak mencakup seluruh mimpi pimpinan, buat semua lapisan yang dipimpinnya,
Semacam jalannya waktu, yang memang tidak terasa gerakannya, 'ternyata, sudah tiba dikancah Dunia baru, 'dengan segala perubahan-perubahannya.




Pekerja halus itupun berkata
Karya cipta memang begitu menarik, terutama menyangkut seni budaya, adat istiadat, suku kata, agama dan lain sebagainya.

Langgam negeri khatulistiwa yang memang masih bermain dilanda krisis sosial semacamnya, 'sebagian ditangkap oleh pekerja halus, baik secara berkelompok maupun mengatasnamakan perorangan, akan diterjemahkan menjadi tata kata sebagai rajut kebangsaan yang utuh, diungggah dalam lukisan perjuangan 'pada kanvas dinamika dan tidak berkesudahan.......

Doa yang diafirmasikan, seluruhnya bersirat, nilai-nilai kedamaian terhadap negerinya,
sebagaimana hak semua bangsa untuk mengekspresikan cipta karsa atau ungkap karya, termasuk, gerak nada dan kata.
T
e
n
t
u tidak mengurangi tujuan daripada rajutan yang telah disampaikan atau lukisan yang dilahirkan oleh bayang-bayang yang telah dituangkan.......
Sesungguhnya setiap perbedaan diharap tetap mengacu keharmonisan, laksanakan kesinambungan yang berbudaya, dititah keagamaan yang dipatuhinya,
S
e
r
t
a tetap mengutamakan rasa sosial, demi persatuan dan kesatuan bangsa, yang tengah diuji zamannya.
Pekerja halus itupun berkata, tak ubahnya pejabat dan para dewan yang disumpah kepalanya,
Sang pencerah pun demikian, juga berkata dengan penafsiran,
tak pelak, kadang melahirkan sekte-sekte oleh sebab hasil akhir pemikirannya.......
K
a
l
a
u demikian, mestikah perlu jawaban,?!
Ketika paham setiap bangsa atas negaranya 'adalah keuTuhan yang saling bersenTuhan.
Bagaimana tata kesepakatan berbangsa dan bernegara, terjadi ganjil dipermukaan kepentingan.......
Dan
Pekerja halus pun berkata,;
"Jalannya perSidangan yang terhormat, direbut atas kehormatan lain, sebagai sengketa, wibawah kepentingan terlihat terpelintir ditengah pasukan, demi golongannya sendiri, yang tidak lagi bicara soal kesepakatan yang telah dipedomankan......."
A
kh
i
r
nya, ukuran terlihat memang tidak standard,
sidang pun, dipertanyakan jika tidak ingin terlihat nampak seperti jalanan.

Tabik tuan, SangKami

Salam #satuMerta Terpujilah Kita Semua🙏