Comments

SILAHKAN APPLY KTA ANDA DAN KAMI RESPON CEPAT DENGAN SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU. TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA MOHON SIMPAN BLOG INI SEBAGAI REFERENSI HUB 0896-6212-0969 BUNGA RINGAN PROSES CEPAT
Tampilkan postingan dengan label Jawadipa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawadipa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Maret 2021


Iwan Pertama
| Secara Medis Plasenta atau Ari-ari adalah organ yang menempel pada dinding rahim selama kehamilan dan digunakan untuk mensuplai darah beroksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Ari-ari berisi pembuluh darah yang berasal dari tali pusar.

Ari-ari merupakan salah satu organ tubuh yang cukup membingungkan bahkan misterius bagi sebagian orang. Karena beberapa negara menganggap plasenta sebagai sisa-sisa kelahiran yang perlu di buang. Sebaliknya, di Indonesia, penanganan plasenta/ Ari ari dengan sangat hati-hati mulai dari pembersihan Ari-ari sampai penguburan dengan tata cara tradisi yang sudah ada. Tulisan di bawah akan di jelaskan cara mengubur Ari-ari menurut tradisi jawa.

Fakta tentang plasenta

Meski bingung, plasenta memiliki banyak fakta menarik, yaitu:

1. Menjaga kebutuhan bayi di dalam kandungan
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Royal Society B Philosophical Transactions, fungsi plasenta adalah untuk memberi asupan makanan ke bayi. Fokus utama pemberian makan plasenta ada di otak. Ini diserap dalam bentuk nutrisi oleh ibu dan oksigen. Makanan yang dikonsumsi ibu terurai di dalam plasenta. Kemudian protein memasuki aliran darah. Itu juga dibawa ke aliran darah bayi melalui plasenta dan tali pusar.

2. Plasenta bayi bertindak seperti kelenjar
Plasenta bisa menghasilkan hormon yang berguna untuk pertumbuhan bayi. Hormon yang diproduksi di plasenta meliputi:

 A. Human Chorionic Gonadotropin (hCG), berguna untuk memicu produksi estrogen dan progesteron pada akhir trimester pertama. Mual pada wanita hamil dipengaruhi oleh hormon ini.

B. Estrogen, hormon ini, dapat meningkatkan aliran darah. Dapat merangsang pertumbuhan rahim dan pertumbuhan jaringan payudara untuk menyusui.

C. Progesteron berguna untuk menjaga lapisan rahim.

D. Laktogen plasenta mempercepat metabolisme sehingga energi terpenuhi selama kehamilan.

3. Plasenta berguna untuk pertukaran darah
Setiap menit, hingga 500ml darah ibu mengalir ke rahim untuk memberi janin nutrisi dan oksigen melalui plasenta.

4. Plasenta bukanlah organ yang dibawa oleh ibu
Saat sperma membuahi sel telur, sel berkembang biak menjadi blastokista dan kemudian berkembang menjadi plasenta dan bayi.

5. Plasenta memberikan kekebalan
Saat ibu mengalami infeksi bakteri, plasenta dapat melindungi bayi dari infeksi keturunan. Karena sebelum bayi lahir, bayi mendapat antibodi melalui plasenta. Antibodi dimasukkan ke dalam ASI saat lahir.

6. Plasenta bekerja secara mandiri
Tidak seperti kebanyakan organ, plasenta hanya berkembang dari sperma dan oosit. Fungsi plasenta di luar kendali langsung sistem saraf. Selain itu, plasenta kekurangan sel saraf. Akibatnya, plasenta tidak terkontrol oleh otak atau sumsum tulang belakang.

7. Plasenta adalah satu-satunya organ sekali pakai
Selama orang masih hidup, organ lain di dalam tubuh digunakan. Padahal, plasenta merupakan organ yang bisa dikeluarkan setelah bayi lahir. Ini karena plasenta "dirancang" hanya untuk janin.

8. Saat plasenta dikeluarkan dari tubuh, ASI diproduksi
Meskipun plasenta bukan penghasil ASI, tampaknya ada kaitannya. Saat plasenta tidak lagi berada di dalam tubuh, hal itu memicu produksi hormon prolaktin. Hormon ini menghasilkan ASI.
Masalah umum dengan plasenta

Ada empat potensi masalah yang terjadi pada plasenta selama kehamilan. Kondisi ini bisa memicu terjadinya perdarahan pada vagina. Berikut empat masalah pada plasenta:

1. Gangguan plasenta
Kondisi ini terjadi ketika plasenta terlepas atau terlepas dari dinding rahim sebelum lahir. Akibatnya, bayi akan kekurangan oksigen dan nutrisi. Juga, pecahnya plasenta menyebabkan aliran darah terus menerus ke ibu.

2. Plasenta previa
Ari-Ari berada di tempat yang salah, bagian bawah dinding rahim. Akibatnya, ini menyebabkan pembukaan serviks tertutup. Hal ini juga menyebabkan perdarahan vagina yang banyak, baik selama kehamilan maupun selama proses melahirkan. Digunakan untuk mengobati kasus plasenta previa, jumlah perdarahan, usia kehamilan, posisi plasenta, dan kesehatan ibu dan bayi. Jika plasenta previa muncul pada akhir trimester ketiga, operasi caesar dianjurkan selama persalinan.

3. Plasenta akreta
Plasenta masih menempel kuat pada rahim setelah lahir. Ini karena pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Memang, di dalam plasenta akreta, plasenta bisa tumbuh menembus dinding rahim.

Tradisi Cara Mengubur Ari -Ari

Ari-ari dimasukkan ke dalam kêndhil (periuk untuk menanak nasi) yang baru. Di dalam kêndhil diberi alas daun senthe (alocasia macrorrhiza (L) Schott).


Di atas daun senthe diberi :




1.  Kêmbang boreh (Kembang boreh adalah campuran bunga yang warnanya serba putih ; mawar putih, melati, kanthil juga ditambah dengan boreh yakni parutan dlingo dan bêngle dicampur)

2.  Minyak wangi.(Wangi yang disukai orang tua wanita, minyak murni tanpa campuran alcohol) 1 botol kecil

3.  Kunir (Kunyit) 1 jari

4.  Wêlat (Sembilu dari bambu) satu jari

5.  Garam 1 genggam

6.  Jarum 1 buah

7.  Bênang 1 gulung berwarna hitam

8.  Gêreh pethek 1 buah, yaitu ikan asin dari ikan petek yang pipih. Kalau tidak ada bisa diganti dengan gêreh biasa.

9.  Gantal (sirih digulung dan diberi tali dengan bênang) dua pasang

10.  Kêmiri 1 genggam

11.  Gêpak Jêndhul (biji sawo) cukup tiga biji kalau tidak ada bisa diganti biji buah kesukaan orang tua wanita)

12.  Tulisan Jawa : ha na ca ra ka (Ditulis di atas kertas putih kemudian digulung)

13. Uang Rp.100.000,-

Kêndhil ditutup lemper (cobek) baru, dibungkus kain mori putih. Lantas di tanam di tanah. Di atas tanaman diberi kêmbang têlon (bunga mawar putih, mawar merah, dan kantil). Yang menanam harus Bapa si Jabang Bayi. Gali lobang dulu, setelah lobang siap maka berganti dengan pakaian Jawa dan berkeris. Bakar tujuh batang dupa, tancapKan di sisi lobang galian. Kemudian membaca mel/mantra. Mel /mantra tiak bisa sembarangan orang membaca nya hanya khusus yang sudah di beri tanggung jawab.  Jika sekira nya ada sanak saudara ingin mengetahui tata cara jawa lebih lanjut bisa hubungi pemilik blog dan akan di bantu segala urusan penguburan Ari-ari beserta sesari yang di butuhkan Khusus lokasi jabodetabek.

Tempat menanam dikurungi dengan kurungan yang baru. Diberi pelita semalaman. Dilakukan sampai cuplak pusêr si jabang bayi. Biasanya tiga hari sudah cuplak pusêr.


#Cantrikpakuan
#Patembayan
#Jawadipakuncara

 

Posted on Maret 12, 2021 by Iwan Pertama

No comments

Kamis, 11 Maret 2010


 JAWADĪPA.


Jawadīpa sendiri tidak bisa dikatakan sebagai  agama. Manusia Jawa sejatinya tidak punya agama resmi yang memberikan ruang doktriner bagi pemeluknya. Manusia Jawa hanya percaya kepada Sanghyang Urip yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Sanghyang Urip ini bisa dikategorikan sebagai Tuhan atau bukan, terserah masing-masing individu memahaminya. Hanya saja sosok Sanghyang Urip ini tidak butuh disembah dan tidak memerintahkan satu ritual penyembahan apapun. Bagaimana Dia bisa aktif memerintah penyembahan jika Dia bukan sosok person tertentu? Segala ritual larung sesaji di lautan maupun di gunung-gunung merupakan inisiatif manusia Jawa sendiri demi berucap syukur kepada Sanghyang Urip, bukan merupakan perintah Tuhan dan karenanya sejatinya tidak memiliki sanksi tertentu. Karena tidak ada doktrin tertentu, maka bentuk upacara dan pelaksanaannya akan bervariasi di setiap daerah. Semua sah karena intinya adalah mengucap terima kasih kepada semesta.


Jika demikian bukankah itu bentuk dari agama Jawa? Sebenarnya tidak ada agama. Yang ada adalah keyakinan mendalam tentang Sanghyang Urip yang tidak bisa disembah dengan cara apapun. Dan bentuk penyembahan kepada-Nya adalah melakukan mamayu hayuning bawana alias menebarkan keselamatan dan kasih kepada sesama dan alam raya.


Bagi ajaran Jawadīpa ada dua hal yang harus menjadi pegangan bagi sesiapa saja yang ingin ada di jalan kebenaran :


1. Aywa hagawe tatu tyasing sapadha-padha. (Jangan membuat sakit hati sesama)

2. Aywa hagawe pêpati samining dumadi. (Jangan melakukan pembunuhan kepada sesama makhluk.)


Dua hal ini yang disebut Pêpalining Hyang (Larangan Tuhan). Karena bagi ajaran Jawadīpa, hanya dua hal tersebut yang menjadi larangan Hyang Agung. Pertama, menyakiti hati sesama. Kedua, menumpahkan darah, merenggut kehidupan dari tubuh makhluk fana. Kedua larangan ini sudah mencakup banyak hal. Dengan menghindari berlaku menyakiti hati sesama dan menumpahkan darah makhluk hidup, maka jalan kebenaran telah terbentang lebar.


Pêpalining Hyang ini disebut pula sebagai Panêmbah Agung (Penyembahan Agung). Karena lagi-lagi bagi ajaran Jawadīpa menyembah Hyang Agung berarti mengasihi sesama. Hyang Agung tidak pernah meminta untuk disembah, tidak pernah menurunkan perintah penyembahan, tidak butuh pengakuan agar diakui oleh semua makhluk bahwa diri-Nya adalah Hyang Agung, diakui sebagai Hyang Agung satu-satunya tiada yang lain, diakui sebagai yang paling dahsyat dan ajaib. Dia sempurna. Tidak membutuhkan apapun juga. Ketika diri-Nya masih butuh pengakuan, berarti tercerabut sudah kesempurnaan dari-Nya. 

Bagaimana bisa sosok yang mengaku sempurna namun masih kebingungan untuk minta diakui sebagai Hyang Agung, Tuhan sarwa sekalian loka? Dan lantas marah-marah jika Dia tidak diindahkan? Sungguh, terlalu sulit bagi manusia untuk melakukan penyembahan kepada Hyang Agung yang tidak bisa diserupakan dengan apapun juga dan tidak bisa digambarkan sedikitpun walau dalam pikiran yang paling rumit. Menghadapi hakikat Tuhan semacam ini, bagaimana bisa manusia melakukan lelaku penyembahan kepada-Nya? Puja-puji, gerakan tertentu, sesajian dan sebagainya, tidak akan mampu menyentuh diri-Nya yang tak tergambarkan. 

Namun demikian, walaupun tak tergambarkan, hakikat Hyang Agung nyata-nyata menyatu dengan semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Hyang Agung adalah hidup itu sendiri, Sanghyang Urip. Tanpa kehadiran Hyang Agung semesta dan makhluk hidup ini akan terlempar kepada maut, tidak akan ada kehidupan. Oleh karenanya, alih-alih melakukan lelaku penyembahan dengan puja-puji atau sesajian, ajaran Jawadīpa lebih memilih mengasihi sesama makhluk hidup karena di sana, di dalam diri sejati semua makhluk hidup tersebut, Hyang Agung, Sanghyang Urip bersemayam. Bersemayam secara rahasia.

Baca Juga :


MARCAPADA

Ketika telur semesta itu pecah menjadi tiga bagian, kulit, putih dan kuning, maka semesta pun menjadi. Kulit berubah menjadi Sanghyang Tejamantri (Sanghyang Antaga), putih berubah menjadi Sanghyang Ismaya (Sanghyang Sêmar) dan kuning berubah menjadi Sanghyang Manikmaya. Ketiganya merupakan cerminan dari kuasa tertinggi : Sanghyang Urip, Sanghyang Magawe Urip (Sanghyang Tunggal) dan Sanghyang Hanguripi (Sanghyang Wênang).

Kisah ini melekat pada benak manusia Jawa dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, melewati silih bergantinya ajaran2 Mancanegara yang masuk ke Jawa. Dari mana kisah ini berasal? Dari jaman sebelum Jawa tersentuh ajaran agama Mancanegara, yaitu jaman Jawadipa. Dan lebih jauh lagi, dari jaman yang Anda kenal sebagai Atlantis itu.

Masihkah belum sadar bahwa pecahan2 pengetahuan kuno bertebaran di sekeliling Anda? Dan masihkan Anda menganggap bahwa leluhur Jawa itu bodoh tidak tahu apa-apa sebelum ajaran-ajaran Mancanegara masuk ke Jawa? Lantas apakah Anda tertarik hendak menyelami ajaran purba tersebut? Jika benar kami persilakan bergabung dengan Patêmbayan Jawadipa.








Patêmbayan Jawadipa Pakuan
Bogor, 17 Pebruari 2021.

Posted on Maret 11, 2010 by Iwan Pertama

No comments

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA