Ketika seseorang memahami elemen dominan di dalam diri nya, maka ia akan lebih mudah menentukan lelaku yang sesuai dengan dirinya. Dari situ juga akan terlihat kemampuan apa yang bisa di optimalkan. Semua saling berhubungan dan tidak berdiri sendiri. 


Contoh jika elemen dalam diri adalah air. Maka lelaku nya akan banyak berhubungan langsung dengan cairan dan aliran kehidupan. Dalam kondisi ini  lebih di optimalkan adalah danyang dan danging yaitu frekuensi dan vibrasi yg berkaitan dengan otak dan jantung. 

Aplikasi keluar nya dapat melalui luangsangwa otak atau luwang sangwa jantung. 

1. Pada luwang sangwa otak pengaruh nya bisa ke mata sebagai visual atau telinga sehingga lebih mudah menerima wisik/sabdo

2. Luwang sangwa jantung

Pengaruhnya dapat mengalir melalui telapak tangan, telapak kaki dan juga napas melalui hidung karena semua nya berkaitan dengan vibrasi dan aliran rasa di dalam tubuh. 

Untuk penguatan yang tepat di gunakan Nisawa karena berkaitan dengan energi kehidupan dari alam semesta yg masuk melalui napas, udara, getaran dan suasana alam. 


Klo melihat gambar berarti orang dengan dominan elemen air adalah limang butha dan kandapat nya adlah cair. Sanghyang Aji adalah ya dayang 

Frekuensi, denging dan vibrasi luwang sangwa nya adalah mata, telinga, tangan, kaki dan hidung. Sebagai penguat nya Nisawa. .. 


Pola lelaku yang dilakukan leluhur secara sistematis bukan di lakukan sembarangan. Setiap orang memiliki elemen dominan yang berbeda-beda,  maka lelaku nya pun tidak di samakan. 



Mare Anak dan Mare Hyang
Dua Sambungan Kehidupan dalam Pandangan Leluhur
Dalam pemahaman leluhur, kehidupan tidak berdiri sendiri. Segala yang ada terhubung dalam rangkaian panjang yang saling menyambung dan saling menghidupi. Hubungan itu dipahami melalui dua lingkaran besar kehidupan, yaitu mare anak dan mare hyang.
Mare anak adalah ikatan keturunan. Ia merupakan sambungan darah yang menghubungkan anak, orang tua, leluhur, dan keturunan yang akan datang. Melalui mare anak, kehidupan jasmani terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tubuh manusia lahir dari tubuh manusia sebelumnya. Darah mengalir dari leluhur kepada keturunannya. Nama, watak, pengetahuan, pengalaman, dan cara hidup diwariskan melalui jalur ini. Karena itu mare anak membentuk keluarga biologis, keluarga yang disatukan oleh sambungan urip melalui keturunan.
Melalui mare anak, manusia memahami bahwa dirinya bukan awal dan bukan akhir. Ia adalah mata rantai dari kehidupan yang jauh lebih panjang daripada dirinya sendiri.
Namun leluhur memahami bahwa hubungan manusia tidak berhenti pada keluarga darah. Ada hubungan yang lebih luas, lebih besar, dan meliputi seluruh kehidupan. Hubungan itulah yang disebut mare hyang.
Jika mare anak adalah keluarga keturunan, maka mare hyang adalah keluarga kehidupan.
Kata mare dipahami sebagai ikatan, hubungan, sambungan, atau kesatuan. Sedangkan hyang adalah daya kehidupan yang membuat sesuatu hidup menurut kodratnya masing-masing.
Karena itu mare hyang adalah kesadaran bahwa seluruh yang memiliki hyang berada dalam satu rangkaian kehidupan yang sama.
Di dalam mare hyang terdapat wwanghyang, yaitu manusia yang memiliki hyang kehidupan dan kesadaran diri.
Ada binatahyang, yaitu hewan dan segala satwa yang menjalankan urip menurut kodrat kehidupannya.
Ada batahyang, yaitu pepohonan, tumbuhan, rerumputan, bunga, buah, dan segala yang tumbuh dari bumi serta menjadi penopang kehidupan.
Ada pula kalahyang, yaitu kala atau waktu yang mengatur pertumbuhan, perubahan, musim, kelahiran, perkembangan, dan kematian.
Semua memiliki hyang. Semua menjalankan perannya masing-masing. Semua saling terhubung dalam satu kesatuan kehidupan.
Karena itu dalam mare hyang, manusia tidak dipahami sebagai penguasa alam. Manusia hanyalah salah satu anggota keluarga besar kehidupan.
Wwanghyang hidup karena batahyang menyediakan pangan, udara, dan keseimbangan alam. Wwanghyang hidup berdampingan dengan binatahyang yang menjadi bagian dari siklus kehidupan. Dan seluruhnya bergerak mengikuti kalahyang yang mengatur perjalanan waktu.
Dari pemahaman inilah lahir sikap hidup leluhur yang menghormati kehidupan dalam segala bentuknya. Pohon tidak dipandang hanya sebagai kayu. Hewan tidak dipandang hanya sebagai makanan. Alam tidak dipandang hanya sebagai benda yang boleh diambil sesuka hati.
Semuanya adalah bagian dari mare hyang.
Merusak batahyang berarti merusak salah satu penyangga kehidupan. Memusnahkan binatahyang berarti merusak keseimbangan urip. Mengabaikan kalahyang berarti melawan keteraturan alam.
Karena itu manusia yang memahami mare hyang akan hidup dengan kesadaran menjaga, bukan menguasai.
Mare anak dan mare hyang sesungguhnya tidak terpisah.
Mare anak mengajarkan manusia menjaga sambungan keturunan.
Mare hyang mengajarkan manusia menjaga sambungan kehidupan.
Yang satu menjaga keluarga darah.
Yang satu menjaga keluarga semesta.
Sebab apa gunanya memiliki keturunan jika kehidupan yang diwariskan telah rusak?
Karena itulah leluhur dahulu tidak hanya memikirkan anak yang lahir hari ini, tetapi juga dunia tempat anak cucunya akan hidup kelak. Mereka menanam pohon yang buahnya belum tentu mereka makan. Mereka menjaga tanah yang hasilnya baru dirasakan generasi berikutnya. Mereka membangun kehidupan untuk masa depan.
Mereka memahami bahwa hidup bukan sekadar menikmati dunia hari ini, melainkan membentuk dunia bagi yang akan datang.
Maka manusia yang memahami mare anak akan menjaga keturunannya.
Dan manusia yang memahami mare hyang akan menjaga seluruh kehidupan.
Karena pada akhirnya, keturunan dan kehidupan semesta adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah sambungan urip yang berasal dari sumber yang sama, berjalan bersama dalam waktu yang sama, dan terus hidup melalui generasi-generasi yang akan datang. Itulah makna mare anak dan mare hyang, dua sambungan yang membentuk satu kehidupan yang utuh.

Hyang Taya